Di sebuah daerah kecil di Jaktim tempat gue tinggal sekarang, tinggallah seorang ibu dan anak gadisnya disebuah rumah yang sederhana. Fitria, itu nama anak gadis yang kini sudah abg. Fitria baru kelas dua SMA. Dia sudah tidak punya ayah. Ayahnya meninggal waktu Fitria berusia lima tahun. Sudah begitu dia sering kesepian karena gak punya saudara yang bisa di ajak main ,kasihan :( . Kehidupan mereka sederhana, ibunya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecillan, kadang Fitria membuat kerajinan tangan dari barang bekas untuk menambah penghasilan.
“sudah Pith, kalau capek kamu tidur dulu, besok berangkat pagi kan?” kata ibunya, sewaktu Fitria membantu ibunya membereskan warung yang mau tutup.
“gak pa pa bu, Fitria belum capek, masih pengen bantu ibu, dari pada gak ada kerjaan”
“ya sudah, tapi kalau lelah, jangan dipaksakan ya, ibu nggak mau sekolahmu terganggu”
“iya bu”
......................
Pagi harinya Fitria berangkat sekolah dengan semangat seperti biasa.
“eh, nanti katanya jamnya bu elsa kosong” kata Dian temennya Fitria
“yang bener? Napa kosong?”
“kurang tau sih, kata ketua kelas sih gitu, nanti Cuma dikasih tugas merangkum”
“hehe,bagus deh” sekelas pasti seneng banget kalo bu elsa, guru paling galak itu tidak mengajar.
Waktu pulang sekolah, Fitria melihat cewek yang kayaknya seumuran dia, cewek itu berjilbab, wajahnya seperti bercahaya dan tidak membosankan untuk terus menerus dilihat. Fitria merasa kagum, wanita itu seperti bidadari pikirnya. Dia suka melihat wanita itu. Entah kenapa tiba2 dia jadi pengen pake jilbab. Tapi dia segera bangun dari lamunannya. Dia sadar, untuk bayar uang sekolah aja kadang bisa kurang. Apalagi membeli segala keperluan untuk berjilbab. Tapi Fitria tetap bertekad mewujudkan impiannya itu, dia ingin mencapainya dengan usahanya sendiri. Dia tidak tega meminta uang ibunya.
.............................
“mungkin gak ya aku bisa berjilbab dengan usahaku sendiri?” kata Fitria dalam lamunannya.
“aku harus lebih bekerja keras lagi mulai sekarang, harus!!!”
Sejak saat itu Fitria semakin rajin membantu ibunya. Membuat kerajinan tangan, dan dia juga melamar menjadi penyiar radio distasiun radio daerahnya, setelah mengalami beberapa proses, akhirnya Fitria diterima menjadi penyiar radio dan membawakan acara pada malam hari karena pagi,siang,sore dia harus sekolah dan membantu ibunya.
Dengan kerja kerasnya, Fitria bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, meskipun sekolah sambil bekerja, tapi nilainya tidak pernah jeblog. Karena Fitria emang anak yang cerdas. "catet tuh"
Kadang dia ingat ayahnya. “ayah pasti seneng kalo aku udah berjilbab” katanya dalam hati.
....................................
Setelah beberapa kali menabung dari hasil kerjanya. Akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang yang lumayan banyak. Tanpa berpikir lama, dia langsung membeli apa yang dia butuhkan. Dia membeli barang2 kebutuhannya yang harganya terjangkau saja untuknya. Tidak terlalu banyak dan seperlunya saja.
Pada hari itu, Fitria resmi berjilbab, waktu ibunya pulang, dia menemui ibunya untuk meminta pendapat dan memberitahu kalo dia akan berjilbab mulai sekarang. Itung2 sebagai kejutan untuk ibunya.
“bu, sekarang Fitria mau berjilbab, menurut ibu bagaimana?”
“alhamdulillaaah, ibu senang sekaliii, jadi akhir2 ini kamu rajin bekerja agar bisa berjilbab? Kenapa tidak bilang sama ibu? Insya Alloh ibu kan bisa bantu”
“tapi, Fitria kan pengen buat kejutan, hhehe”
“ayahmu pasti bangga” kemudian senyum mereka mengembang.