30 September 2013

Jika nanti selamanya.. kita..




Sekat diantara kita. Bukan, bukan hanya udara. Bukan pula palung dalam pekat selaksa malam. Ataupun tembok besi angkuh tebal tak bertepi.

Ini sepenuhnya kehendak kita. Memisahkan diri untuk menghindari murka Nya. Murka pembawa petaka. Ya, cintaNya lah yang menyatukan rasa kita. Tak ada alasan bagi kita untuk mengkhianatiNya. Apapun alasannya.. TanpaNya, kita tak ada, pun rasa ini.

Apa yang kau harapkan dari kita? Dari hubungan yang hanya sebatas kata-kata di kehidupan maya? Selamanya? Ketahuilah, jika selamanya tak ada, maka aku akan membawa mati rasa yang sudah terlanjur menyatu dalam nadiku. Mencintaimu.

Ya, kau memang tidak berada di sisiku saat ini. Tidak untuk saat ini. Tidak sedang memelukku, pun menatap mataku ketika menyeruput sedikit demi sedikit secangkir susu hangat di depanmu. Jika saat itu tiba, kau akan menemani setiap hirupanku terhadap aroma susu buatanmu.

Dalam setiap pesan yang kutuliskan kepadamu setiap harinya, adalah harapan. Dan dari setiap harapan, kurapalkan beribu-beribu doa untuk sekedar “kita”, selamanya, setidaknya sampai usia tak lagi ada di antara kita.

Ketidaknyataan yang kita hadapi bukan hanya halusinasi, kan? “kita” ada. Hanya saja takdir mengatakan belum waktunya untuk bersama. suatu hari nanti, seperti janji-janjiku dulu, kita akan menghabiskan senja berdua. Bahagia. Percayalah…

Pada waktu yang kini menjadi pemisah, suatu hari nanti akan kita bunuh bersama…

..........@gista_adanty..........................................................................

23 September 2013

Kebaikan Orangtua dan Balasan Kita

Saat kita berusia 1 tahun, orangtua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
Saat kita berusia 2 tahun, orangtua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.
Saat kita berusia 3 tahun, orangtua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
Saat kita berusia 4 tahun, orangtua member kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.
Saat kita berusia 5 tahun, orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
Saat kita berusia 10 tahun, orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos.
Saat kita berusia 11 tahun, orangtua mengantarkan kita ke mna-mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah
Saat kita berusia 12 tahun, orangtua mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasn, kita malah meminta orangtua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
Saat kita berusia 13 tahun, orangtua membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya liburan kita. Sebagai balasan, kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah
Saat kita berusia 14 tahun, orangtua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”
Saat kita berusia 17 tahun, orangtua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
Saat kita berusia 18 tahun, orangtua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
Saat kita berusia 19 tahun, orangtua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, “Papa, Mama, aku malu! Aku ‘kan sudah gede!”
Saat kita berusia 22 tahun, orangtua memeluk kita dengan haru ketika kita diwisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”
Saat kita berusia 23 tahun, orangtua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong! Aku ‘kan nggak suka model seperti ini!”
Saat kita berusia 29 tahun, orangtua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
Saat kita berusia 30 tahun, orangtua memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, “ Papa, Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu.
Saat kita berusia 40 tahun, orangtua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralalasan, “Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.
Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orang tua kita..ternyata semua sama persis apa yang pernah kita lakukan ke pada kedua orang tua kita…

Saat ingin merubah .


Dulu, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini,

Lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku.

Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku.
Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku.

Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."



Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. 
Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya. 

20 September 2013

Ketika aku tua (ayah)

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur

Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?
Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.

Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.

15 September 2013

Ibu, aku sangat rindu masa kecilku.

Hawa dingin segera menyergap setiap senti badanku saat aku membuka pintu kamar ini. Ruangan seluas 3×3 seakan mendapatkan suntikan nyawa baru ketika udara di dalam dan diluar saling menyapa untuk kemudian bertukar peran. Aku baru sadar darimana asalnya hawa dingin malam ini saat satu per satu tetes air menerjunkan dirinya dari genteng berwarna coklat tua. malam ini masih terlalu muda, entah apa yang Allah rencanakan memberiku tugas malam ini.

Seketika mataku beradu pada sebuah buku kecil bersampul coklat di sudut meja berantakkan itu.Ah, sebuah mushaf kecil yang kokoh itu mulai berdebu. Entah sudah berapa purnama aku tak menyapanya. Namun malam ini, mushaf kecil itu mendengungkan sebuah panggilan yang mungkin hanya aku yang dapat mendengarnya. Sebuah panggilan untuk segera menjamahnya. Panggilan yang begitu jelas terdengar dalam setiap lotus lotus otakku.

Ada kekuatan yang mendorongku tiba-tiba untuk membasuh raga ini segera. Kugerakkan langkahku menuju kran air berkarat di dekat pintu itu. Aku harus ekstra hati-hati karena hujan malam telah membuat lantai ini tak lagi ramah pada siapapun yang 'lali' menjaga keseimbangan raga nya. Dan, ah.. aku mencium bau yang tak asing. Petrichor! Sensasi yang selalu datang saat hujan turun. Memori itupun mencengkram semakin kuat dan dalam.

Mushaf kecil, hujan di malam hari, bau tanah yang tersiram hujan, semua bermuara pada satu nama : Ibu.
Selesai mengambil wudhu, aku berjingkat masuk ke kamar dan menyambar mushaf coklat kecilku. Kubaca pelan setiap titian kata, setiap tajwid yang bermakna, dan setiap arti yang terkandung di tiap ayat suci Nya. Aku sadar, aku sedang berperang sekarang. Berperang menghadapi rindu yang kian datang menghujam.

Ibu, aku sangat rindu masa kecilku.

Seakan tak mau kalah dengan rintik hujan di luar sana, mataku mulai menunjukan perlawanannya. Kelopak mataku tak kuasa lagi membendung desakan air yang membonceng saat kenangan itu tiba. Terbayang jari-jari lembut yang memanduku membaca huruf hijaiyah. Senyum sabar dan tulusnya yang membuat siapapun menjadi tenang di dekatnya. Belaian tangan yang begitu menentramkan. Elusan kecil di rambut saat aku salah mengucapkan “syin” serupa “sod” . Lalu hadiah-hadiah kecil yang aku terima saat aku mulai bisa menghapal ayat demi ayat-Nya. Ibu dulu selalu menjanjikanku sepiring ayam goreng kegemaranku, untuk setiap surat pendek yang bisa kuhafal. Ibu, tak akan ada habisnya berbicara tentang kenangan dan cerita tentang kita, Sama seperti derai air hujan yang turun malam ini.
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.. Aku menutup mushaf kecil coklat itu, kupejamkan mata, namun aku tetap tak kuasa untuk menutup kenangan yang berputar dengan leluasa.
“Ibu, jika aku sudah tartil bacanya nanti.. Aku janji kan menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan..” Kataku waktu itu.
Seperti biasa, jemari lembut yang begitu menentramkan itu mengelus pipiku.
“Waah, anak Ibu hebat!”
“Iya donk Bu.. Siapa dulu Ibu nya.. Tapi nanti aku mau dibuatkan sepiring ayam goreng setiap hari ya Bu.. kalo aku bisa khatamin Qur’an” Aku memeluknya..
“Iya nak Ibu janji nanti pasti buatkan sepiring ayam goreng tiap hari!” Ibu mencubit hidungku dan tersirat senyuman bangga disana.
Sejenak menarik nafas Ibu melanjutkan kata-katanya.
“Nak, kamu kan cowo! Suatu saat kamu pasti jadi calon imam yang hebat dan juara. Ibu ingin kamu menepati setiap apa yang terucap dari lisanmu. Seperti janjimu tadi ingin menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan. Jadilah seorang Imam kebanggan penduduk langit ya nak. Tepati setiap janjimu, katakan yang kamu lakukan, lakukan yang kamu katakan..” Ibu menutup kalimatnya dengan satu kecupan di kening yang tak pernah kulupakan hingga malam ini.