Sekat diantara kita. Bukan, bukan hanya udara. Bukan pula palung dalam pekat selaksa malam. Ataupun tembok besi angkuh tebal tak bertepi.
Ini sepenuhnya kehendak kita. Memisahkan diri untuk menghindari murka Nya. Murka pembawa petaka. Ya, cintaNya lah yang menyatukan rasa kita. Tak ada alasan bagi kita untuk mengkhianatiNya. Apapun alasannya.. TanpaNya, kita tak ada, pun rasa ini.
Apa yang kau harapkan dari kita? Dari hubungan yang hanya sebatas kata-kata di kehidupan maya? Selamanya? Ketahuilah, jika selamanya tak ada, maka aku akan membawa mati rasa yang sudah terlanjur menyatu dalam nadiku. Mencintaimu.
Ya, kau memang tidak berada di sisiku saat ini. Tidak untuk saat ini. Tidak sedang memelukku, pun menatap mataku ketika menyeruput sedikit demi sedikit secangkir susu hangat di depanmu. Jika saat itu tiba, kau akan menemani setiap hirupanku terhadap aroma susu buatanmu.
Dalam setiap pesan yang kutuliskan kepadamu setiap harinya, adalah harapan. Dan dari setiap harapan, kurapalkan beribu-beribu doa untuk sekedar “kita”, selamanya, setidaknya sampai usia tak lagi ada di antara kita.
Ketidaknyataan yang kita hadapi bukan hanya halusinasi, kan? “kita” ada. Hanya saja takdir mengatakan belum waktunya untuk bersama. suatu hari nanti, seperti janji-janjiku dulu, kita akan menghabiskan senja berdua. Bahagia. Percayalah…
Pada waktu yang kini menjadi pemisah, suatu hari nanti akan kita bunuh bersama…
..........@gista_adanty..........................................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar