Hei..
Tidak, saya tidak akan bertanya mengenai kabarmu. Saya tau persis
bagaimana keadaanmu saat ini. Ada luka yang belum juga mengering,
padahal saya tau betul bagaimana usahamu memulihkannya.
Saya tau bahwa kamu sedang tidak baikbaik saja. Maafkan, waktu itu
sebenarnya saya sudah berhatihati.
Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya
terjatuh juga. Sudah saya empukkan tanah di bawahnya, agar tidak terlalu
sakit kalaupun sampai harus terjatuh.
Nyatanya, tetap saja terasa
benturannya. Sudahlah, tidak perlu menyesal begitu. Yang bisa dilakukan
saat ini adalah menyembuhkanmu.
Menurut saya sih, waktu tidak menyembuhkan apaapa. Hanya saja,
pandanganmu terhadap luka akan berubah seiring jalannya waktu.
Tapi, sepertinya kamu memang ditakdirkan untuk selalu terjatuh, hati. Jadi, terima saja, ya?
Begini deh, kita buat perjanjian saja. Kalau nanti ada seseorang yang
menarik perhatianmu dan sesuai dengan frekuensimu, tolong teriak lebih
kencang supaya saya tau bahwa kamu sudah siap terjatuh. Tapi, mohon
jangan bergetar berlebihan juga, karena akan memalukan kalau sampai
kelihatan orang.
Bagaimana, setuju? Kadang, mata dan logika suka
purapura buta kalau aku ajak bicara soal cinta. Maka itu, saya
percayakan pada kamu saja.
Saya tau, kamu adalah hati terkuat. Tapi bagaimanapun, kalau jatuhnya
sendirian, itu rasanya memang berkali lipat lebih sakit. Bahkan ada
kemungkinan ditertawakan orangorang. Kalau jatuhnya berdua, setidaknya
kan bisa saling menertawakan.
Semoga kamu lekas sembuh. Dan bersiap untuk terjatuh lagi ya, hati.
Tertanda,
Aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar