Pagi kembali datang, dengan muram. Sisa hujan semalam masih menggelayut di
langit. Jalan di belakang rumah sakit seketika
menjelma menjadi kolam kecil, membuat siapa saja malas melewatinya.
Pagi kembali datang, tak ada yang istimewa kecuali kamu
mengangap bernafas adalah keistimewaan dari pagi. Menganggap kamu masih dipercaya tuhan untuk menjalani
sebuah petualangan. Meski pada akhirnya kamu memilih untuk menjadi penonton,
selalu duduk manis dengan sesekali terkejut dan mengomentari pertujukkan hidup
orang lain.
-Tanpa sadar di belakangmu orang lain menjadikanmu aktor, aktor yang payah pastinya. Tidak kah kamu lelah hanya menjadi penonton.-
-Tanpa sadar di belakangmu orang lain menjadikanmu aktor, aktor yang payah pastinya. Tidak kah kamu lelah hanya menjadi penonton.-
Pagi kembali datang, dengan sebuah rutinitas. Tidak bosankah
kamu melewati jalan yang sama setiap hari. Mungkin kamu perlu mencari jalan
lain, sedikit terlambat tak mengapa. Bukan kah sebuah keterlambatan diperlukan
dalam proses perjalanan baru. Tak perlu mengumpat, kamu hanya perlu memutuskan,
untuk tetap bertahan pada rutinitas yang membosankan atau menemukan kembali
secarik kertas bertuliskan harapan.
Pagi kembali datang, dengan sebuah pertanyaan. Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti dan mencari jawaban yang Pagi lontarkan kepadaku.
Semoga esok, pagi kembali datang, dengan pertanyaan baru. Jika tidak, Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti (lagi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar