24 Oktober 2013

'Action ku lah yang akan jadi penentu BESAR tujuan yang ku inginkan'


Ketika umurku 15 tahun, 
aku punya pakaian dalam yang membawa keberuntungan.

Jika pakaian dalam itu tidak berfungsi, aku punya potongan rambut yang membawa keberuntungan.


Lalu, nomor telephone yang membawa keberuntungan, bahkan juga hari yang membawa keberuntungan.




Setelah 15 tahun, Aku sadar bahwa rahasia untuk sukses amatlah sederhana, KERJA KERAS.

23 Oktober 2013

Bersama berdua kita..

Aku masih membayangkan kita duduk berdua di tepi pantai, di sebuah pulau terpencil yang hanya dihuni beberapa keluarga. Aku membayangkan kita sedang duduk menghadap senja, melihat matahari memantulkan kilauan emasnya ke  laut sore .

Aku membayangkan ada seseorang yang baik hati mengabadikan potret kita, sebuah siluet sepasang kekasih saling menggengam tangan, dan kamu merebahkan kepalamu  bersandar di bahuku.

Aku membayangkan kamu terpejam, mendengarkan suara ombak. Tanganmu sesekali naik turun mengikuti irama merdu suara ombak. Aku membayangkan kamu berlari kecil di pinggir pantai, menuliskan nama kita, membiarkan anak-anak ombak menghapusnya. Dengan sabar kamu kembali menuliskannya, tanpa lelah dan  memandangku dengan tersenyum.

Aku membayangkan kamu setia  di belakangku, menemani setiap sujud dan mengamini setiap doa yang kulapalkan untuk kita berdua. Kamu mencolek punggungku, meminta tanganku untuk kamu cium. Aku menariknya, bukan tak suka, hanya ingin memuliakan kamu, dimana kakimu merupakan pintu surga untuk anak-anakku, anak kita.

Aku membayangkan kamu membukakan pintu untukku saat pulang. Dengan calon malaikat kita yang  ada di perutmu, kamu tetap tersenyum dan  tak mengeluh sedikit pun. Aku membayangkan, di malam-malam yang dingin, kamu menungguku membuatkan susu untukmu. Menyelimuti setiap jengkal tubuhmu yang kedinginan dan menunggumu hingga terlelap.

Aku membayangkan kamu menahan sakit saat melahirkan anak pertama kita. Di tengah malam yang sepi, saat tak lagi kendaraan banyak lalu lalang, aku mencoba memapahmu mencari kendaraan sewaan. Kamu memegang erat tanganku, “kita naik motor saja ya, katamu pelan dan tak mengeluh sedikit pun. aku menangis dan mengatakan, meski kita tak punya apa-apa, tapi aku menjanjikan segalanya untukmu. Kamu terdiam dan menitikkan air mata.

Aku membayangkan malaikat kecil kita belajar berjalan. Kaki-kakinya yang kecil sesekali terjatuh tak kuat menahan berat bebannya sendiri. Aku membayangkan, saat dia mulai berlari dan terjatuh, kamu selalu ada di sampingnya. Mengobati lukannya dan menenangkannya.

Aku membayangkan mengantar anak kita ke sekolah dan kamu menjemputnya seusai dia belajar di sana. Mendampingi hari-harinya, membagi seluruh waktumu hanya untuknya.  

Aku membayangkan kita berdiri di sisi pelaminan anak-anak kita, mengantarkannya menuju sebuah rumah baru, melahirkan malaikat-malaikat kecil yang kelak kita panggil cucu. Aku membayangkan kita melepas mereka dengan bangga, setelah mendampingi hampir separuh hidup kita.

Aku membayangkan kita membangun rumah di sebuah pulau terpencil, rumah mungil yang kita persipakan untuk hari tua. Rumah sederhana dengan halaman yang luas, tempat kamu menanam bunga dan menghabiskan waktu membaca dan menulis di sebuah saung. Tempat kamu mengajak cucu-cucu kita bermain dan berlarian. Tempatku mengajak mereka bermain bola, menggantikan momen yang tak sempat kita lakukan bersama anak-anak kita karena halaman rumah kita yang sempit.  

Aku ingin bukan hanya membayangkan tapi mewujudkanya, iyah terwujud. maukah kamu membantu @gista_adanty ..

(Pertanyaan) Tentang Pagi .

Pagi kembali datang, dengan muram.  Sisa hujan semalam masih menggelayut di langit. Jalan di belakang rumah sakit seketika menjelma menjadi kolam kecil, membuat siapa saja malas melewatinya.

Pagi kembali datang, tak ada yang istimewa kecuali kamu mengangap bernafas adalah keistimewaan dari pagi. Menganggap  kamu masih dipercaya tuhan untuk menjalani sebuah petualangan. Meski pada akhirnya kamu memilih untuk menjadi penonton, selalu duduk manis dengan sesekali terkejut dan mengomentari pertujukkan hidup orang lain.

-Tanpa sadar di belakangmu orang lain menjadikanmu aktor, aktor yang payah pastinya. Tidak kah kamu lelah hanya menjadi penonton.-

Pagi kembali datang, dengan sebuah rutinitas. Tidak bosankah kamu melewati jalan yang sama setiap hari. Mungkin kamu perlu mencari jalan lain, sedikit terlambat tak mengapa. Bukan kah sebuah keterlambatan diperlukan dalam proses perjalanan baru. Tak perlu mengumpat, kamu hanya perlu memutuskan, untuk tetap bertahan pada rutinitas yang membosankan atau menemukan kembali secarik kertas bertuliskan harapan.

Pagi kembali datang, dengan sebuah pertanyaan. Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti dan mencari jawaban yang Pagi lontarkan kepadaku. Semoga esok, pagi kembali datang, dengan pertanyaan baru. Jika tidak, Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti (lagi).

Kapanpun kamu siap.

Hei..
Tidak, saya tidak akan bertanya mengenai kabarmu. Saya tau persis bagaimana keadaanmu saat ini. Ada luka yang belum juga mengering, padahal saya tau betul bagaimana usahamu memulihkannya.

Saya tau bahwa kamu sedang tidak baikbaik saja. Maafkan, waktu itu sebenarnya saya sudah berhatihati. 

Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya terjatuh juga. Sudah saya empukkan tanah di bawahnya, agar tidak terlalu sakit kalaupun sampai harus terjatuh.

 Nyatanya, tetap saja terasa benturannya. Sudahlah, tidak perlu menyesal begitu. Yang bisa dilakukan saat ini adalah menyembuhkanmu. Menurut saya sih, waktu tidak menyembuhkan apaapa. Hanya saja, pandanganmu terhadap luka akan berubah seiring jalannya waktu.

Tapi, sepertinya kamu memang ditakdirkan untuk selalu terjatuh, hati. Jadi, terima saja, ya?
Begini deh, kita buat perjanjian saja. Kalau nanti ada seseorang yang menarik perhatianmu dan sesuai dengan frekuensimu, tolong teriak lebih kencang supaya saya tau bahwa kamu sudah siap terjatuh. Tapi, mohon jangan bergetar berlebihan juga, karena akan memalukan kalau sampai kelihatan orang. 

Bagaimana, setuju? Kadang, mata dan logika suka purapura buta kalau aku ajak bicara soal cinta. Maka itu, saya percayakan pada kamu saja.
2_by_efecaylak-d5smvk
Saya tau, kamu adalah hati terkuat. Tapi bagaimanapun, kalau jatuhnya sendirian, itu rasanya memang berkali lipat lebih sakit. Bahkan ada kemungkinan ditertawakan orangorang. Kalau jatuhnya berdua, setidaknya kan bisa saling menertawakan.

Semoga kamu lekas sembuh. Dan bersiap untuk terjatuh lagi ya, hati.

Tertanda,

Aku.