25 Desember 2013

Satu Jam di Sebuah Sore .

Wanita itu membaca komik yang dibawanya. Diletakkannya buku kecil itu perlahan di meja kayu bundar. Ada bekas lipatan tanda dia membaca halaman itu. Kutatap ia sekilas, hatiku gemetar.
Kami kembali bertatapan. Kami berbicara dalam bahasa yang hanya kami berdua pahami. Tapi soal makna, kami tak tahu pasti. Ia kembali berkisah soal ini itu. Sesekali ia bercerita soal komik kegemaranya. Aku terdiam. Dua-tiga kali kepalaku mengangguk. Semoga ia tak tahu aku hanya pura-pura mengerti.
Ini kali pertama aku hanyut dalam senyumnya yang begitu tenang dan hangat. Aku mau merengkuhnya sampai matahari sisa separuh. Aku mau terus menatap wajahnya satu atau dua jam tanpa jeda.
Ia, wanita dengan senyuman yang tenang dan hangat itu melirik jam tangannya. “Sudah sore. aku pulang,” katanya. Aku mengangguk. Tidak! Sejujurnya pulang adalah ide terburuk yang pernah kudengar sepanjang hari ini.
Aku mau bersamanya lebih lama lagi, menghabiskan tiap detik tanpa berkata-kata selain tersenyum dan merelakan diriku tenggelam di dekatnya. Aku mau mempercepat langkah jarum jam agar esok segera datang. Aku harus bertemu dia esok hari atau kapanpun dan apapun yang terjadi. Sebab Aku mencandunya

Iya cukup sehari saja untukku bersamamu..

Setiap sisi pertemuan ada hal yang tidak mudah dijelaskan, mengenai apa, siapa, kapan dan dimana.
Seperti aku kemudian kamu, pertemuan kita dulu di luar bayangan remajaku.
Melihatmu buatku bertanya, siapa kamu dan untuk apa kita saling menyapa kemudian tersenyum, tanpa tahu maksud dari-NYA pertemukan kita.


Kita dekat kita jauh tetap sama bagiku, mata ini pun tetap sama, belum mampu menatap kearahmu, seperti terlalu miskin pandanganku terhadapmu, sedangkan menurut mereka wajahmu indah serupa pribadimu yang dibalut penutup auratmu itu.


Ada saatnya aku beranikan diri ini untuk mengenalmu, walau ku tahu tak ada satu pun dalam tubuh ini yang sanggup buatmu bangga akan diriku.


Kepala ini kosong..
Kreasi ini membuntu..
Juga ide ini berhenti memutar jika ada hal yang mengenai dirimu..

Perbincangan bodoh yang aku mulai buatku terlihat semakin bodoh.


Namun tak disangka pribadi hangatmu menyambut wacana bodohku dengan senyum malaikatmu, seketika tubuh payah ini bergetar dan tak lagi kokoh seperti sebelumnya.

“boleh ku lihat rambutmu?” kalimat bodoh pertama yang terucap dari hati gemetar ini, entah apa yang terbesit di pikiran hingga kalimat itu ku sampaikan padamu.
Setiap kata kalimatmu, buatku sulit menggapaimu, melihat tegak kearahmu bahkan tertawa bersamamu.


Tiap bertemu denganmu selalu tertunduklah kepala ini, tertutuplah wajah buruk ini, terbata-bata pula mulut gemetar ini.


Mataku miskin pandangan terhadapmu sebab indah senyum mu ..


Tertutuplah wajah diri ini demi rupa yang tak pantas kau lihat dibandingkan rupa indahmu.


Suara ini terhalang oleh gemetar tubuh bila dekatmu.. bila dekat aroma tubuhmu..

Saat bertambah usia seiring kedewasaanmu, harusnya aku berada di dekatmu memberi kejutan manis untukmu di dalam keadaaan apapun.
Namun karena wacana bodoh dengan mereka, lagi dan kembali ku lakukan hal bodoh terhadapmu. Buatku menyesal hingga saat ini..


Melihat manusia indah yang berbalut hijab, buat pikiran kecil ini selalu mengingatmu. Kuyakini tak akan pernah lupa diri ini terhadapmu.


Ingin ku saat ini ialah sehari berbincang denganmu kemudian tertawa bersama mu..


Sebentar saja..



'Tidak ada satu tarikan nafaspun yang aku hembuskan, melainkan ada takdir yang dijalankan-Nya pada diriku. Karena itu, tunduklah aku pada-Nya dalam setiap keadaan.'


20 Desember 2013

5 waktu denganmu ..

Bukan dari tulang ubun ia diciptakan sehingga lupa akan pujian. Bukan juga dari tulang kaki karena khawatir akan diinjak dan direndahkan. Melainkan ia diciptakan dari tulang rusuk, dekat dengan dada untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai…
Ia yang telah diciptakan oleh Allah sebagai pelengkap sehingga manusia menjadi berpasang-pasangan.
Ia yang dikatakan oleh Allah, bahwa wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula…semoga kami termasuk di dalamnya.
Ia yang telah diciptakan oleh-Nya untuk menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak dan mereka menyebutnya ‘supermom’.

Ia yang 'nanti' ketika melahirkan sang buah hati belahan jiwa, membuat diri menjadi lebih mencintai sosok seorang Ibu, karena perjuangan hebatnya selama 9 bulan mengandung dan melewati fase proses melahirkan yang penuh perjuangan. 
 
Ia yang telah dipilihkan oleh-Nya untuk tetap setia mendampingi, baik di kala susah maupun di kala senang.
Ia yang telah Allah tentukan untuk menjadi tempat berbagi dan mencurahkan isi hati.
Ia yang kecantikan paras yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta tak lantas membuatnya menjadi tinggi hati.
Ia yang telah ditinggalkan oleh ayah tercintanya, tak lantas membuatnya menjadi rendah diri.
Ia yang dengan sifat tak mau pamer diri telah membuatnya menjadi sosok seorang pendamping yang selalu merendahkan hati.
 
Ia yang telah diteduhkan pandangannya sehingga tak membuat matanya bermain api.
Ia yang tiada pernah memakai wewangian yang keharumannya bisa tercium dari jauh oleh orang lain.
Ia yang selalu mengalah walau hatinya terkadang disakiti…semoga bukan dari perbuatan diri ini.  
Ia yang telah mengikuti perintah-Nya menutup aurat sehingga membuat setan durjana tak mengikuti langkahnya di saat ke luar rumah. . Insha Allah. Amiin ..
Ia yang telah banyak membuat diri ini menjadi pribadi yang terus belajar, akan kedewasaan sikap dan prilaku yang dilakukannya.
Ia yang tak pernah menuntut untuk diberikan kemewahan, namun banyak berharap tuk mendapatkan keberkahan.
 
Ia yang kesederhanaannya mampu tuk membuat hati menjadi lebih menyayangi.
Ia yang menjadi pelecut semangat untuk lebih banyak bersyukur atas segala apa yang telah diberikan oleh-Nya.
Ia yang kini telah menjadi teman pendamping diri ini selama 5 tahun.
Ia yang terkadang diri ini tak selalu bisa untuk menemani di sepanjang waktu.  
Ia yang merupakan pelengkap dari sepasang bidadari yang akan ditempatkan dan dikumpulkan di surga-Nya… 
Insha Allah. Amiin ..
 
Untuk Ia yang selalu menantiku dengan sabar, menanti menghalalkan dirinya. 
Untuk Ia yang telah mencintai dan yang telah begitu peduli.
Untuk Ia yang kehidupan ini ingin dijalani dengan penuh arti, bersamanya hingga saatnya tuk kembali.
 
Semoga Allah merahmati dirinya…untukmu kekasih hati, tulisan ini kubuat untukmu Gista Adanty.
Dari diri ini yang juga selalu mencintaimu… 

24 November 2013

Bantu sukses untuk sukses .


Satu-satunya perbedaan antara orang-orang besar dengan orang kebanyakan adalah bahwa orang besar mengambil peran aktif dalam membentuk kehidupan mereka.

 Mereka mendefinisikan apa impian mereka dan melakukan upaya untuk meraihnya.

Sementara orang kebanyakan dibentuk oleh kehidupan mereka. Mereka ini menunggu saja dengan pasif kemana kehidupan ini akan membawa mereka selanjutnya.

Perbedaan di antara kedua golongan ini adalah golongan pertama benar-benar hidup, sementara golongan kedua hanya sekedar hidup apa adanya.

Ini adalah sebuah kebenaran bahwa Anda bisa sukses luar biasa dengan cepat bila Anda membantu orang lain untuk juga merasakan sukses.

Jadilah pejuang sukses 
untuk orang disekelilingmu ~

12 November 2013




Me without You`
Seperti balon gas tanpa batu pemberat. (terlalu) ringan. mudah terjatuh.  kemudian terbang. dan menghilang.  

24 Oktober 2013

'Action ku lah yang akan jadi penentu BESAR tujuan yang ku inginkan'


Ketika umurku 15 tahun, 
aku punya pakaian dalam yang membawa keberuntungan.

Jika pakaian dalam itu tidak berfungsi, aku punya potongan rambut yang membawa keberuntungan.


Lalu, nomor telephone yang membawa keberuntungan, bahkan juga hari yang membawa keberuntungan.




Setelah 15 tahun, Aku sadar bahwa rahasia untuk sukses amatlah sederhana, KERJA KERAS.

23 Oktober 2013

Bersama berdua kita..

Aku masih membayangkan kita duduk berdua di tepi pantai, di sebuah pulau terpencil yang hanya dihuni beberapa keluarga. Aku membayangkan kita sedang duduk menghadap senja, melihat matahari memantulkan kilauan emasnya ke  laut sore .

Aku membayangkan ada seseorang yang baik hati mengabadikan potret kita, sebuah siluet sepasang kekasih saling menggengam tangan, dan kamu merebahkan kepalamu  bersandar di bahuku.

Aku membayangkan kamu terpejam, mendengarkan suara ombak. Tanganmu sesekali naik turun mengikuti irama merdu suara ombak. Aku membayangkan kamu berlari kecil di pinggir pantai, menuliskan nama kita, membiarkan anak-anak ombak menghapusnya. Dengan sabar kamu kembali menuliskannya, tanpa lelah dan  memandangku dengan tersenyum.

Aku membayangkan kamu setia  di belakangku, menemani setiap sujud dan mengamini setiap doa yang kulapalkan untuk kita berdua. Kamu mencolek punggungku, meminta tanganku untuk kamu cium. Aku menariknya, bukan tak suka, hanya ingin memuliakan kamu, dimana kakimu merupakan pintu surga untuk anak-anakku, anak kita.

Aku membayangkan kamu membukakan pintu untukku saat pulang. Dengan calon malaikat kita yang  ada di perutmu, kamu tetap tersenyum dan  tak mengeluh sedikit pun. Aku membayangkan, di malam-malam yang dingin, kamu menungguku membuatkan susu untukmu. Menyelimuti setiap jengkal tubuhmu yang kedinginan dan menunggumu hingga terlelap.

Aku membayangkan kamu menahan sakit saat melahirkan anak pertama kita. Di tengah malam yang sepi, saat tak lagi kendaraan banyak lalu lalang, aku mencoba memapahmu mencari kendaraan sewaan. Kamu memegang erat tanganku, “kita naik motor saja ya, katamu pelan dan tak mengeluh sedikit pun. aku menangis dan mengatakan, meski kita tak punya apa-apa, tapi aku menjanjikan segalanya untukmu. Kamu terdiam dan menitikkan air mata.

Aku membayangkan malaikat kecil kita belajar berjalan. Kaki-kakinya yang kecil sesekali terjatuh tak kuat menahan berat bebannya sendiri. Aku membayangkan, saat dia mulai berlari dan terjatuh, kamu selalu ada di sampingnya. Mengobati lukannya dan menenangkannya.

Aku membayangkan mengantar anak kita ke sekolah dan kamu menjemputnya seusai dia belajar di sana. Mendampingi hari-harinya, membagi seluruh waktumu hanya untuknya.  

Aku membayangkan kita berdiri di sisi pelaminan anak-anak kita, mengantarkannya menuju sebuah rumah baru, melahirkan malaikat-malaikat kecil yang kelak kita panggil cucu. Aku membayangkan kita melepas mereka dengan bangga, setelah mendampingi hampir separuh hidup kita.

Aku membayangkan kita membangun rumah di sebuah pulau terpencil, rumah mungil yang kita persipakan untuk hari tua. Rumah sederhana dengan halaman yang luas, tempat kamu menanam bunga dan menghabiskan waktu membaca dan menulis di sebuah saung. Tempat kamu mengajak cucu-cucu kita bermain dan berlarian. Tempatku mengajak mereka bermain bola, menggantikan momen yang tak sempat kita lakukan bersama anak-anak kita karena halaman rumah kita yang sempit.  

Aku ingin bukan hanya membayangkan tapi mewujudkanya, iyah terwujud. maukah kamu membantu @gista_adanty ..

(Pertanyaan) Tentang Pagi .

Pagi kembali datang, dengan muram.  Sisa hujan semalam masih menggelayut di langit. Jalan di belakang rumah sakit seketika menjelma menjadi kolam kecil, membuat siapa saja malas melewatinya.

Pagi kembali datang, tak ada yang istimewa kecuali kamu mengangap bernafas adalah keistimewaan dari pagi. Menganggap  kamu masih dipercaya tuhan untuk menjalani sebuah petualangan. Meski pada akhirnya kamu memilih untuk menjadi penonton, selalu duduk manis dengan sesekali terkejut dan mengomentari pertujukkan hidup orang lain.

-Tanpa sadar di belakangmu orang lain menjadikanmu aktor, aktor yang payah pastinya. Tidak kah kamu lelah hanya menjadi penonton.-

Pagi kembali datang, dengan sebuah rutinitas. Tidak bosankah kamu melewati jalan yang sama setiap hari. Mungkin kamu perlu mencari jalan lain, sedikit terlambat tak mengapa. Bukan kah sebuah keterlambatan diperlukan dalam proses perjalanan baru. Tak perlu mengumpat, kamu hanya perlu memutuskan, untuk tetap bertahan pada rutinitas yang membosankan atau menemukan kembali secarik kertas bertuliskan harapan.

Pagi kembali datang, dengan sebuah pertanyaan. Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti dan mencari jawaban yang Pagi lontarkan kepadaku. Semoga esok, pagi kembali datang, dengan pertanyaan baru. Jika tidak, Aku menyeduh susu, mengunyah 'empuknya' roti (lagi).

Kapanpun kamu siap.

Hei..
Tidak, saya tidak akan bertanya mengenai kabarmu. Saya tau persis bagaimana keadaanmu saat ini. Ada luka yang belum juga mengering, padahal saya tau betul bagaimana usahamu memulihkannya.

Saya tau bahwa kamu sedang tidak baikbaik saja. Maafkan, waktu itu sebenarnya saya sudah berhatihati. 

Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya terjatuh juga. Sudah saya empukkan tanah di bawahnya, agar tidak terlalu sakit kalaupun sampai harus terjatuh.

 Nyatanya, tetap saja terasa benturannya. Sudahlah, tidak perlu menyesal begitu. Yang bisa dilakukan saat ini adalah menyembuhkanmu. Menurut saya sih, waktu tidak menyembuhkan apaapa. Hanya saja, pandanganmu terhadap luka akan berubah seiring jalannya waktu.

Tapi, sepertinya kamu memang ditakdirkan untuk selalu terjatuh, hati. Jadi, terima saja, ya?
Begini deh, kita buat perjanjian saja. Kalau nanti ada seseorang yang menarik perhatianmu dan sesuai dengan frekuensimu, tolong teriak lebih kencang supaya saya tau bahwa kamu sudah siap terjatuh. Tapi, mohon jangan bergetar berlebihan juga, karena akan memalukan kalau sampai kelihatan orang. 

Bagaimana, setuju? Kadang, mata dan logika suka purapura buta kalau aku ajak bicara soal cinta. Maka itu, saya percayakan pada kamu saja.
2_by_efecaylak-d5smvk
Saya tau, kamu adalah hati terkuat. Tapi bagaimanapun, kalau jatuhnya sendirian, itu rasanya memang berkali lipat lebih sakit. Bahkan ada kemungkinan ditertawakan orangorang. Kalau jatuhnya berdua, setidaknya kan bisa saling menertawakan.

Semoga kamu lekas sembuh. Dan bersiap untuk terjatuh lagi ya, hati.

Tertanda,

Aku.

30 September 2013

Jika nanti selamanya.. kita..




Sekat diantara kita. Bukan, bukan hanya udara. Bukan pula palung dalam pekat selaksa malam. Ataupun tembok besi angkuh tebal tak bertepi.

Ini sepenuhnya kehendak kita. Memisahkan diri untuk menghindari murka Nya. Murka pembawa petaka. Ya, cintaNya lah yang menyatukan rasa kita. Tak ada alasan bagi kita untuk mengkhianatiNya. Apapun alasannya.. TanpaNya, kita tak ada, pun rasa ini.

Apa yang kau harapkan dari kita? Dari hubungan yang hanya sebatas kata-kata di kehidupan maya? Selamanya? Ketahuilah, jika selamanya tak ada, maka aku akan membawa mati rasa yang sudah terlanjur menyatu dalam nadiku. Mencintaimu.

Ya, kau memang tidak berada di sisiku saat ini. Tidak untuk saat ini. Tidak sedang memelukku, pun menatap mataku ketika menyeruput sedikit demi sedikit secangkir susu hangat di depanmu. Jika saat itu tiba, kau akan menemani setiap hirupanku terhadap aroma susu buatanmu.

Dalam setiap pesan yang kutuliskan kepadamu setiap harinya, adalah harapan. Dan dari setiap harapan, kurapalkan beribu-beribu doa untuk sekedar “kita”, selamanya, setidaknya sampai usia tak lagi ada di antara kita.

Ketidaknyataan yang kita hadapi bukan hanya halusinasi, kan? “kita” ada. Hanya saja takdir mengatakan belum waktunya untuk bersama. suatu hari nanti, seperti janji-janjiku dulu, kita akan menghabiskan senja berdua. Bahagia. Percayalah…

Pada waktu yang kini menjadi pemisah, suatu hari nanti akan kita bunuh bersama…

..........@gista_adanty..........................................................................

23 September 2013

Kebaikan Orangtua dan Balasan Kita

Saat kita berusia 1 tahun, orangtua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
Saat kita berusia 2 tahun, orangtua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.
Saat kita berusia 3 tahun, orangtua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
Saat kita berusia 4 tahun, orangtua member kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.
Saat kita berusia 5 tahun, orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
Saat kita berusia 10 tahun, orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos.
Saat kita berusia 11 tahun, orangtua mengantarkan kita ke mna-mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah
Saat kita berusia 12 tahun, orangtua mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasn, kita malah meminta orangtua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
Saat kita berusia 13 tahun, orangtua membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya liburan kita. Sebagai balasan, kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah
Saat kita berusia 14 tahun, orangtua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”
Saat kita berusia 17 tahun, orangtua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
Saat kita berusia 18 tahun, orangtua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
Saat kita berusia 19 tahun, orangtua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, “Papa, Mama, aku malu! Aku ‘kan sudah gede!”
Saat kita berusia 22 tahun, orangtua memeluk kita dengan haru ketika kita diwisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”
Saat kita berusia 23 tahun, orangtua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong! Aku ‘kan nggak suka model seperti ini!”
Saat kita berusia 29 tahun, orangtua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
Saat kita berusia 30 tahun, orangtua memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, “ Papa, Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu.
Saat kita berusia 40 tahun, orangtua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralalasan, “Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.
Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orang tua kita..ternyata semua sama persis apa yang pernah kita lakukan ke pada kedua orang tua kita…