Setiap sisi
pertemuan ada hal yang tidak mudah dijelaskan, mengenai apa, siapa, kapan dan
dimana.
Seperti aku kemudian
kamu, pertemuan kita dulu di luar bayangan remajaku.
Melihatmu buatku
bertanya, siapa kamu dan untuk apa kita saling menyapa kemudian tersenyum,
tanpa tahu maksud dari-NYA pertemukan kita.
Kita dekat kita jauh
tetap sama bagiku, mata ini pun tetap sama, belum mampu menatap kearahmu,
seperti terlalu miskin pandanganku terhadapmu, sedangkan menurut mereka wajahmu
indah serupa pribadimu yang dibalut penutup auratmu itu.
Ada saatnya aku
beranikan diri ini untuk mengenalmu, walau ku tahu tak ada satu pun dalam tubuh
ini yang sanggup buatmu bangga akan diriku.
Kepala ini kosong..
Kreasi ini
membuntu..
Juga ide ini
berhenti memutar jika ada hal yang mengenai dirimu..
Perbincangan bodoh yang aku mulai buatku terlihat semakin bodoh.
Perbincangan bodoh yang aku mulai buatku terlihat semakin bodoh.
Namun tak disangka
pribadi hangatmu menyambut wacana bodohku dengan senyum malaikatmu, seketika
tubuh payah ini bergetar dan tak lagi kokoh seperti sebelumnya.
“boleh ku lihat
rambutmu?” kalimat bodoh pertama yang terucap dari hati gemetar ini, entah apa
yang terbesit di pikiran hingga kalimat itu ku sampaikan padamu.
Setiap kata
kalimatmu, buatku sulit menggapaimu, melihat tegak kearahmu bahkan tertawa
bersamamu.
Tiap bertemu
denganmu selalu tertunduklah kepala ini, tertutuplah wajah buruk ini,
terbata-bata pula mulut gemetar ini.
Mataku miskin
pandangan terhadapmu sebab indah senyum mu ..
Tertutuplah wajah
diri ini demi rupa yang tak pantas kau lihat dibandingkan rupa indahmu.
Suara ini terhalang
oleh gemetar tubuh bila dekatmu.. bila dekat aroma tubuhmu..
Saat bertambah usia
seiring kedewasaanmu, harusnya aku berada di dekatmu memberi kejutan manis
untukmu di dalam keadaaan apapun.
Namun karena wacana
bodoh dengan mereka, lagi dan kembali ku lakukan hal bodoh terhadapmu. Buatku
menyesal hingga saat ini..
Melihat manusia
indah yang berbalut hijab, buat pikiran kecil ini selalu mengingatmu. Kuyakini
tak akan pernah lupa diri ini terhadapmu.
Ingin ku saat ini
ialah sehari berbincang denganmu kemudian tertawa bersama mu..
Sebentar saja..

'Tidak ada satu tarikan nafaspun yang aku hembuskan, melainkan ada takdir yang dijalankan-Nya pada diriku. Karena itu, tunduklah aku pada-Nya dalam setiap keadaan.'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar