15 September 2013

Ibu, aku sangat rindu masa kecilku.

Hawa dingin segera menyergap setiap senti badanku saat aku membuka pintu kamar ini. Ruangan seluas 3×3 seakan mendapatkan suntikan nyawa baru ketika udara di dalam dan diluar saling menyapa untuk kemudian bertukar peran. Aku baru sadar darimana asalnya hawa dingin malam ini saat satu per satu tetes air menerjunkan dirinya dari genteng berwarna coklat tua. malam ini masih terlalu muda, entah apa yang Allah rencanakan memberiku tugas malam ini.

Seketika mataku beradu pada sebuah buku kecil bersampul coklat di sudut meja berantakkan itu.Ah, sebuah mushaf kecil yang kokoh itu mulai berdebu. Entah sudah berapa purnama aku tak menyapanya. Namun malam ini, mushaf kecil itu mendengungkan sebuah panggilan yang mungkin hanya aku yang dapat mendengarnya. Sebuah panggilan untuk segera menjamahnya. Panggilan yang begitu jelas terdengar dalam setiap lotus lotus otakku.

Ada kekuatan yang mendorongku tiba-tiba untuk membasuh raga ini segera. Kugerakkan langkahku menuju kran air berkarat di dekat pintu itu. Aku harus ekstra hati-hati karena hujan malam telah membuat lantai ini tak lagi ramah pada siapapun yang 'lali' menjaga keseimbangan raga nya. Dan, ah.. aku mencium bau yang tak asing. Petrichor! Sensasi yang selalu datang saat hujan turun. Memori itupun mencengkram semakin kuat dan dalam.

Mushaf kecil, hujan di malam hari, bau tanah yang tersiram hujan, semua bermuara pada satu nama : Ibu.
Selesai mengambil wudhu, aku berjingkat masuk ke kamar dan menyambar mushaf coklat kecilku. Kubaca pelan setiap titian kata, setiap tajwid yang bermakna, dan setiap arti yang terkandung di tiap ayat suci Nya. Aku sadar, aku sedang berperang sekarang. Berperang menghadapi rindu yang kian datang menghujam.

Ibu, aku sangat rindu masa kecilku.

Seakan tak mau kalah dengan rintik hujan di luar sana, mataku mulai menunjukan perlawanannya. Kelopak mataku tak kuasa lagi membendung desakan air yang membonceng saat kenangan itu tiba. Terbayang jari-jari lembut yang memanduku membaca huruf hijaiyah. Senyum sabar dan tulusnya yang membuat siapapun menjadi tenang di dekatnya. Belaian tangan yang begitu menentramkan. Elusan kecil di rambut saat aku salah mengucapkan “syin” serupa “sod” . Lalu hadiah-hadiah kecil yang aku terima saat aku mulai bisa menghapal ayat demi ayat-Nya. Ibu dulu selalu menjanjikanku sepiring ayam goreng kegemaranku, untuk setiap surat pendek yang bisa kuhafal. Ibu, tak akan ada habisnya berbicara tentang kenangan dan cerita tentang kita, Sama seperti derai air hujan yang turun malam ini.
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.. Aku menutup mushaf kecil coklat itu, kupejamkan mata, namun aku tetap tak kuasa untuk menutup kenangan yang berputar dengan leluasa.
“Ibu, jika aku sudah tartil bacanya nanti.. Aku janji kan menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan..” Kataku waktu itu.
Seperti biasa, jemari lembut yang begitu menentramkan itu mengelus pipiku.
“Waah, anak Ibu hebat!”
“Iya donk Bu.. Siapa dulu Ibu nya.. Tapi nanti aku mau dibuatkan sepiring ayam goreng setiap hari ya Bu.. kalo aku bisa khatamin Qur’an” Aku memeluknya..
“Iya nak Ibu janji nanti pasti buatkan sepiring ayam goreng tiap hari!” Ibu mencubit hidungku dan tersirat senyuman bangga disana.
Sejenak menarik nafas Ibu melanjutkan kata-katanya.
“Nak, kamu kan cowo! Suatu saat kamu pasti jadi calon imam yang hebat dan juara. Ibu ingin kamu menepati setiap apa yang terucap dari lisanmu. Seperti janjimu tadi ingin menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan. Jadilah seorang Imam kebanggan penduduk langit ya nak. Tepati setiap janjimu, katakan yang kamu lakukan, lakukan yang kamu katakan..” Ibu menutup kalimatnya dengan satu kecupan di kening yang tak pernah kulupakan hingga malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar