Hawa dingin segera menyergap setiap senti badanku saat aku membuka
pintu kamar ini. Ruangan seluas 3×3 seakan mendapatkan suntikan nyawa
baru ketika udara di dalam dan diluar saling menyapa untuk kemudian
bertukar peran. Aku baru sadar darimana asalnya hawa dingin malam ini
saat satu per satu tetes air menerjunkan dirinya dari genteng berwarna
coklat tua. malam ini masih terlalu muda, entah apa yang Allah rencanakan
memberiku tugas malam ini.
Seketika mataku beradu pada sebuah buku kecil bersampul coklat di
sudut meja berantakkan itu.Ah, sebuah mushaf kecil yang kokoh itu mulai
berdebu. Entah sudah berapa purnama aku tak menyapanya. Namun malam ini,
mushaf kecil itu mendengungkan sebuah panggilan yang mungkin hanya aku
yang dapat mendengarnya. Sebuah panggilan untuk segera menjamahnya.
Panggilan yang begitu jelas terdengar dalam setiap lotus lotus otakku.
Ada kekuatan yang mendorongku tiba-tiba untuk membasuh raga ini
segera. Kugerakkan langkahku menuju kran air berkarat di dekat pintu itu.
Aku harus ekstra hati-hati karena hujan malam telah membuat lantai ini
tak lagi ramah pada siapapun yang 'lali' menjaga keseimbangan raga nya.
Dan, ah.. aku mencium bau yang tak asing. Petrichor! Sensasi yang selalu
datang saat hujan turun. Memori itupun mencengkram semakin kuat dan
dalam.
Mushaf kecil, hujan di malam hari, bau tanah yang tersiram hujan, semua bermuara pada satu nama : Ibu.
Selesai mengambil wudhu, aku berjingkat masuk ke kamar dan
menyambar mushaf coklat kecilku. Kubaca pelan setiap titian kata, setiap
tajwid yang bermakna, dan setiap arti yang terkandung di tiap ayat suci
Nya. Aku sadar, aku sedang berperang sekarang. Berperang menghadapi
rindu yang kian datang menghujam.
Ibu, aku sangat rindu masa kecilku.
Seakan tak mau kalah dengan rintik hujan di luar sana, mataku mulai
menunjukan perlawanannya. Kelopak mataku tak kuasa lagi membendung
desakan air yang membonceng saat kenangan itu tiba. Terbayang jari-jari
lembut yang memanduku membaca huruf hijaiyah. Senyum sabar dan tulusnya
yang membuat siapapun menjadi tenang di dekatnya. Belaian tangan yang
begitu menentramkan. Elusan kecil di rambut saat aku salah mengucapkan
“syin” serupa “sod” . Lalu hadiah-hadiah kecil yang aku terima saat aku
mulai bisa menghapal ayat demi ayat-Nya. Ibu dulu selalu menjanjikanku
sepiring ayam goreng kegemaranku, untuk setiap surat pendek yang bisa kuhafal. Ibu,
tak akan ada habisnya berbicara tentang kenangan dan cerita tentang
kita, Sama seperti derai air hujan yang turun malam ini.
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.. Aku menutup mushaf kecil
coklat itu, kupejamkan mata, namun aku tetap tak kuasa untuk menutup
kenangan yang berputar dengan leluasa.
“Ibu, jika aku sudah tartil bacanya nanti.. Aku janji kan menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan..” Kataku waktu itu.
Seperti biasa, jemari lembut yang begitu menentramkan itu mengelus pipiku.
“Waah, anak Ibu hebat!”
“Iya donk Bu.. Siapa dulu Ibu nya.. Tapi nanti aku mau dibuatkan sepiring ayam goreng setiap hari ya Bu.. kalo aku bisa khatamin Qur’an” Aku
memeluknya..
“Iya nak Ibu janji nanti pasti buatkan sepiring ayam goreng tiap hari!” Ibu mencubit hidungku dan tersirat senyuman bangga disana.
Sejenak menarik nafas Ibu melanjutkan kata-katanya.
“Nak, kamu kan cowo! Suatu saat kamu pasti jadi calon imam yang hebat
dan juara. Ibu ingin kamu menepati setiap apa yang terucap dari
lisanmu. Seperti janjimu tadi ingin menghatamkan Qur’an setiap Ramadhan.
Jadilah seorang Imam kebanggan penduduk langit ya nak. Tepati setiap
janjimu, katakan yang kamu lakukan, lakukan yang kamu katakan..” Ibu
menutup kalimatnya dengan satu kecupan di kening yang tak pernah
kulupakan hingga malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar