17 Juli 2013

Hai, wanita solehah. Naik kapal, yuk?

Hai, wanita solehah. Naik kapal, yuk?
Kapal itu berupa jalinan kasih dalam satu ikatan suci pernikahan.
Akulah nahkodanya. Laki-laki.
Kamulah kru kapal, juru masak yang merangkap navigator yang mengingatkan saatku salah arah.
Dalam perjalanannya, kita akan merekrut kru kapal yang lain. Itulah anak-anak kita kelak.
Meramaikan kapal kita. Berlarian ke sana ke mari di deck kapal. Mengajakku bermain saat lelahku memegang kendali kapal. Kamu pun.
Saat kapal ini menghantam karang besar dan terombang-ambing ombak ganas, kuharap kita tetap tenang dan bekerja sama memperbaikinya. Bersama.
Kapal ini akan membawa kita mengarungi samudera tak bertepi. Tentu melelahkan. Tapi tenang, kita buat fondasi kapal dengan kayu ajaib berupa kepercayaan.
Kepercayaan. Itulah yang kita butuhkan.  Untuk menguatkan kapal kita.

Di Rumah Sakit ini jari jari menari dihibur hujan rintik di luar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar